Monday, 24 January 2011

LOVE U DAD!!

papa.. satu kata yang selalu menjadi lobang menganga di hatiku.. entah sejak kapan hal ini terjadi..

papa termasuk orang yang gak pandai mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata, namun dia pandai mengungkapkannya dengan tindakan.. semua perhatian dan kebaikan hatinya mampu menghipnotis orang-orang disekitarnya untuk merasa nyaman dan aman jika berada dekat dengan dia..

papa selalu memberikan perhatian dengan semua orang..

spontanitas yang selalu dia tunjukkan merupakan salah satu keunikan yang dimiliki papa..
aku ingat papa sering tiba-tiba mengajakku keluar tanpa tujuan,, sampai makan di luar.. (salah satu hal yang paling aku rindukan) apalagi kalo papa lagi banyak duit,, pasti kita semua ditraktir makan sama papa,, atau di ajak liburan..

papa selalu menjadi sumber kebahagiaan dalam keluarga kami..
mama yang sifatnya moody (kayak aku) mampu diatasi sama papa..

walaupun keluarga kami tidak sekaya Jusuf Kalla, tidah sehebat BJ Habibie, namun papa selalu bisa menyempurnakan kelurga kami.. dengan kerendahan hati dan kesabaran yang dimilikinya.. papa selalu bisa mengatasi semua masalah..

papa paling pantang untuk mengeluh..
walaupun masalah yang dihadapinya sulit..

yang selalu menjadi pedoman papa adalah Allah.. aku salut sama papa.. disaat saudara"nya yg lain sibuk dengan urusan bisnis dan yg lain",, papa tetap teguh untuk mensyiarkan agama..

papa selalu bisa membuat kami bahagia..

papa sumber kebahagiaan kami..

namun,, kebahagiaan itu kini telah sirna..

papa telah pergi dan kembali ke sisi-Nya..

Allah sayang sama papa,, makanya papa dipanggil secepat ini..

27 Februari 2009..
HARI NERAKA bagiku..

seketika duniaku hancur, dengan perginya papa..

tapi aku tidak bisa terus-terusan terpuruk,, aku masih memilki mama,, dan adik-adikku..
aku harus berjuang demi mereka..

papa pergi,, karena Allah sayang sama papa..
papa telah hidup tenang disisiNya

namun,, rasa IRI yang selalu timbul melihat teman-teman yang masih memiliki papa, tidak bisa aku tutupi..
aku pernah bertanya pada temanku,, pendapat papa kamu tentang cowok kamu gmn?? papamu overprotectiv y??
aku juga ingin merasakan hal itu,, cowo'ku ditanya" sama papa..
papa ngintip" kalo dia datang.. menunjukkan muka garangnya sama cowo'ku..dan masih banyak hal lagi..
tapi hal itu cuman bisa jadi khayalan belaka..

tahun 2011,, insya Allah tahun ini aku lulus..
tapi di saat foto wisudaku nanti,, semua teman"ku foto lengkap dengan orang tua mereka,, sedangkan akuu??

aku ingin papa ada..

aku udah berusaha untuk IKHLAS,, tapi selalu sulit untuk menerima kenyataan yang ada...

selalu saja ada perasaan sesal dan kesal..

tapi apa daya,,, ini sudah kehendaknyaa..

aku hanya bisa berdoa papa diberikan tempat terbaik di sisiNya..

papaku sayang,, dirimu selalu ada di dalam hati anak"mu..
anak-anak yang selalu mmencintai dan menyayangimu..


papa sampai kapanpun engkau selalu ada di dalam hati kami..
aku sayang papa sampai kapanpun.. selalu liat kami dari sana yaa pa..

aku sayang papa..kangen papa selalu..

23 Agustus 2009

awal dari semua kisah ini..

berawal dari ketidaksengajaan, menjadi sebuah komitmen untuk menjalin suatu hubungan..

dari sebuah sms iseng dari kamu,, "gmn kalo kamu yg jadi pacar aku??" itu sms kamu pada saat itu.. balsan sms pamitan aku.. pamitan untuk kembali ke bogor..

saat itu aku tidak yakin, apakah aku akan menerima,, atau ini hanya sebuah permainan belaka.. tapi kamu meyakinkanku.. dan aku memberinya suatu syarat,, untuk membuktikan keseriusanmu,, kamu harus datang ke bandara sebelum aku berangkat.. dan kamu menyetujui persyaratanku..

hampir sejam aku menunggu, kamu tidak juga datang.. kamu menelpon,, kalo udah dijalan, dan ban motormu kempes,, tapi pesawatnya udah datang,, dan aku harus juga berangkat.. saat itu aku percaya dengan omonganmu.. tapi pd suatu hari aku akan tau,, kalau semua itu hanyalah bohong belaka..

setelah di bogor,, kita menjalani hubungan ini.. walaupun harus LDR..
tapii,, akan tiba saatnyaa aku mengetahui kenyataan yang akan sangat melukaiku..
kamu selingkuh dibelakangku..

awalnya aku tidak terima,, tapi entah kenapa,, aku masih bisa memaafkannya..

aku berusaha untuk tetap mempercayainya..
walaupun kepercayaaku telah hancur berkeping-keping..

setelah menjalani hubungan yang penuh dengan masalah..
akhirnya aku diberi kesempatan untuk bertemu..

aku pulang ke Makassar..

di Makassar kita menikmati masa-masa kebersamaan kitaa..


liburan saat itu merupakan liburan paling indah yang aku rasakan..
walaupun pada akhirnya kamu memberiku kekecewaan lagii..

setelah aku pulang ke Bogor,, kamu memberiku suatu kejutan yang sangat luar biasa..
kamu selingkuh (lagi),, dan kali ini dengan sahabatmu sendiri.. salah satu orang yang selalu ku jadikan tempat curhat dan kupercaya.. ternyata telah menyalahgunakan kepercayaanku..

dan kali itu,, entah kenapa,, aku memaafkanmu (lagi)..
entah setan apa yang emasuki pikaranku..
atau mungkin "my Love is Blind"..makanya aku seperti itu..

banyak teman yang mencemoohku..karena yang telah aku lakukan..
tapi aku tidak bisa mengubah keadaan..

dan sekarang??

setelah setahun berlalu,, entah kenapa sifatmu mulai berubah lagi..
dan sekarang aku benar-benar terikat denganmu..
aku sulit untuk melepassmu..

aku tak tahu harus gimana dan berbuat apa..

aku mohon JANGAN BERUBAH!!
dan buat hubungan kita untuk selamanya..


jangan biarkan semua ini berakhir begitu saja.. aku ingin kita SELAMANYA..!!

DI MANA ALLAH?

Padang pasir membentang luas. Matahari bersinar menyala seolah hendak membakar ubun-ubun kepala. Di sebuah jalan yang membela padang pasir, tampak seseorang berjubah putih sedang berjalan kelelahan. Orang itu tak lain adalah Abdullah bin Umar ra, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, yang terkenal dengan kealiman (tinggi ilmu) dan kezuhudannya (sederhana. Dia sedang berjalan keluar dari Madinah menuju Makkah untuk beribadah di Baitullah.

Berkali-kali Abdullah bin Umar ra menghentikan langkahnya sesaat untuk meminum seteguk air perbekalannya. Namun sayang, kantong airnya telah kering kerontang. Dia benar-benarkehausan. Dia benar-benar kehausan. Dia melihat ke sekelilingnya, siapa tahu ada orang Badui atau pengembala yang bisa memberinya seteguk penawar dahaga.namun, sejauh mata memandang, yang ditemukan hanyalah warna kecokelatan samudera pasir.

Dia tetap bersabar dan terus berjalan, sampai akhirnya matanya menangkap beberapa titik-titik hitam dan putih di kejauhan sana, di balik bukit pasir. Hatinya merasa lega, berkali-kali dia mengucapkan syukur alhamdulillah. Dia yakin, titik hitam dan putih itu adalah manusia. Abdullah terus melangkahkan kaki untuk mendekati titik hitam dan putih itu. Ketika sudah dekat, perkiraannya tidak meleset. Titik-titik hitam dan putih itu adalah seorang pengembala dan kambing-kambingnya.
Ketika Abdullah bin Umar ra sudah berada tak jauh dari pengembala itu, tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk menguji pengembala itu. Dia ingin tahu, apakah ajaran Islam telah samapai ke tengah pada pasir yang terpencil jauh itu? Dia sudah ingin tahu, apakah pengembala itu telah menerima ajaran suci yang dibawa Nabi Muhammad saw?

Setelah mengucapkan salam, Abdullah bin Umar berkata kepada pengembala yang masih bocah itu, “Hai Bocah, aku ingin membeli seekor kambing yang kau gembalakan ini. Bekalku sudah habis.”

“Maaf Tuan, aku hanyalah seorang budak yang bertugas mengembalakan kambing-kambing ini. Aku tidak bisa menjualnya. Ia bukan milikku tapi milik majikanku. Aku tidak diberi wewenang untuk menjualnya,” jawab pengembala kambing itu.

“Ah, itu masalah yang mudah. Begini, kau jual seekor saja kambing gembalaanmu padaku. Kambing yang kau jaga ini sangat banyak tentu sangat sulit bagi pemiliknya untuk menghitung jumlahnya. Atau kalau pun dia tahu ada seekor kambingnya tidak ada, bilang saja telah dimangsa serigala padang pasir. Mudah sekali, bukan? Kau pun bisa membawa uangnya,” bujuk Abdullah bin Umar ra dengan wajah yang tampak serius.

“Lalu di mana Allah? Pemilik kambing ini memang tidak akan tahu dan bisaa dibohongi, tetapi ada Dzat yang Mahatahu, yang pasti melihat dan mengetahui apa yang kita lakukan. Apa kau kira Allah tidak ada?” jawab pengembala itu mantap.
Sungguh, jawaban itu membuat Abdullah bin Umar tersentak kaget.

“Aku tidak diberi kuasa oleh pemilik kambing ini untuk menjualnya. Aku hanya diperbolehkan mengembalakannya dan meminum air susunya ketika aku membutuhkannya dan memberi minum para musafir yang kehausan,” sambung pengembala itu.
Dia berkata begitu sambil berjongkok, memerah susu seekor kambing dalam sebuah mangkuk. Begitu penuh berisi susu, dia memberikannya pada Abdullah bin Umar.

“Minumlah Tuan, kulihat Anda kehausan. Jika masih kurang, bisa tambah. Jangan kuatir, susu ini halal. Allah tahu itu halal sebab pemiliknya menyuruh aku untuk memberi minum musafir yang membutuhkan,” kata pengembala itu dengan tutur kata yang halus dan ramah.

Abdullah bin Umar menerima mangkuk itu berisi susu itu dengan hati terharu. Dia minum sampai rasa hausnya hilang. Setelah itu, dia mohon diri.
Di jalan, dia tidak bisa menyembunyikan tangisnya, teringat kata-kata pengembala itu, “Di mana Allah? Apakah kau kira Allah tidak ada?”

Abdullah bin Umar menangis mngingat bahwa seorang pengembala kambing di tengah padang pasir yang pakainnya kumal, ternyata memilki rasa takwa yang begitu dalam. Dia memiliki kejujuran yang tinggi. Hatinya menyiharkan keimanan. Akhlaknya sungguh mulia. Ajaran Rasulullah saw telah terpatri dalam jiwanya. Abdullah bin Umar terus menglangkahkan kaki sambil bercucuran air mata.

Lalu, Abdullah bin Umar mencari kampung terdekat dan menanyakan siapakah tuan dari sang pengmbala kambing itu? Begiitu berjumpa, Abdullah bin Umar langsung membeli budak itu dan langsung memerdekakannya.

Seorang manusia yang jujur dan memiliki rasa ketakwaan kepada Allah yang begitu tinggi tidaklah sepatutnya menjadi hamba sahaya manusia. Dia hanya pantas menjadi Hamba Allah Swt.

TIGA LELAKI BERJIWA MALAIKAT

Malam hari Raya Idul Fitri telah tiba. Kota Damaskus terang benderang oleh cahaya lampu beraneka warna. Takbir bergemuruh terdengar membahana.

Dalam rumah yang sederhana, seorang wanita berjilbab putih, berkata pada suaminya. “Abu Abdillah suamiku, besok hari raya. Anak kita tidak memiliki pakaian baru seperti anak-anak tetangga lainnya. Ini semua disebabkan karena tindakan borosmu!”.
“Aku tidak boros aku hanya menginfakkan hartaku dalam kebaikan dan demi membantu orang-orang miskin yang membutuhkan. Ini bukan suatu pemborosan, Ummu Abdillah,” jawab sang suami.
“Baiklah kumohon sekarang, tulislah surat dan kirim kepada salah seorang sahabatmu yang baik hati dan ikhlas, agar mereka menyisihkan sebagian hartnya kepa kita. Jika keadaan kita membaik Insya Allah akan kita ganti.”

Abu Abdillah memilki dua teman karib yang berhati ikhlas. Mereka bernama Hamdi dan Usamah. Mendengar permintaan istrinya itu, dia segera menulis surat. Lalu, dia memberikan srat itu kepada pembantunya agar membawanya ke tempat sahabatnya, Hamdi. Kemudian, pembantunya pergi ke tempat Hamdi dan menyerahkan surat yang ditulis oleh tuannya.

Hamdi membacanya dengan seksama. Dia segera tahu bahwa sahabatnya yang pemurah sedang dalam kesempitan dan kesusahan karena tidak memiliki apa-apa.
Hamdi berkata keapada utusan Abu Abdillah, “Aku tahu tuanmu telah menginfakkan semua hartanya dalam kebaikan. Ambillah kantong ini dan katakan kepada tuanmu, hanya inilah harta yang aku miliki pada malam hari raya ini.”
Pembantu Abu Abdillah bergegas kembali kepada tuannya dan menyerahkan kantong pemberian Hamdi itu. Abu Abdillah membuka kantong itu. Ternyata, isinya uang seratus dinar.

Dia berkata kepa istrinya dengan penuh gembira, “Ummu Abdillah, lihat ini, Allah telah mengantarkan seratus dinar kepada kita.”
Sang istripun gembira dan berkata kepada suainya, “Cepatlah pergi ke pasar, terdengar seseorang mengetuk pintu. Abu Abdillah membuka pintu. Ternyata, yang datang adalah pembantu usamah, sahabatnya. Pembantu Usamah itu datang dengan membawa surat minta pertolongan kepada Abu Abdillah agar dia berkenan meminjami uang untuk membayar hutang yang telah jatuh tempo. Tanpa berpikir panjang, Abu Abdillah langsung menyerahkan kantong berisi uang seratus dinar yang ada di tangannya, kepada pembantu Usman. Dia menyerahkan semuanya, tanpa mengambil satu dinar pun.

“Katakan pada Usamah, tuanmu. Segera lunasi hutangnya malam ini juga,” pesan Abu Abdillah kepada pembantu itu.
Mengetahui hal itu, terang saja Ummu Abdillah marah kepada Abu Abdillah yang lebih mementingkan sahabatnya daripada anak-anaknya.
“Kau ini melihat anak kita bersedih dan kelaparan. Kalau pun kau mau membantu Usamah, mengapa tidak setengah dari uang itu saja? Mengapa kau berikan semuanya?” ucap Ummu Abdillah sewot.
Sang suami menjawab, “Temanku meminta pertolonganku bagaimana mungkin aku tidak memberinya? Aku juga tidak tahu apakah uang di dalam kantong itu cukup untuk melunasi hutangnya atau tidak?”
Ummu Abdillah terdiam dan beristighfar untuk meredam kejengkelannya kepa sang suami yang terlalu baik kepada orang lain itu.

Beberapa jam kemudian, terdengar orang mengetuk pintu. Abu Abdillah membuka pintu. Dia kaget bukan kepalang. Ternyata yang datang adalah sahabatnya, Hamdi. Serta merta dia memeluk dan menyambut dengan hangat, lalu mempersilahkan masuk.
Setelah duduk, Hamdi berkata, “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang kantong ini. Apakah ini kantong yang aku kirim kepadamu dan di dalamnya ada seratus dinar?”
Abu Abdillah mengamati kantong itu pnuh seksama.

Dengan anda kaget, dia berkata, “Ya..ya..benar.. ini adalah kantong itu. Ceritakanlah kepadaku, Hamdi, bagaimana kantong ini bisa kembali lagi kepadamu?”
Hamdi lalu bercerita, “Katika pembantumu datang kepadaku membaa suratmu. Aku berikan kantong itum dan itu adalah satu-satanya harta yang aku punya. Karena aku tidak punya apa-apa lagi, maka aku langsung minta bantuan pada Usamah. Betapa terkejutnya aku ketika Usamah memberikan berisi seratus dirham, yang tidak lain adalah kantong yang aku kirimkan kepadamu tanpa kurang satu dinarpun. Aku takjub, untuk lebih yakin, aku bertanya kepadamu, benarkah ini kantong yang aku kirimkan kepadamu? Untuk itu, aku datang ke sini untuk menguak rahasia ini.”

Abu Abdillah tertawa dan berkata, “Usamah lebih mengutamakan kamu daripada dirinya, dan memberikan kantong itu, sebagaimana kamu lebih mengutamakan diriku daripada dirimu sendiri, Hamdi.”

“Dan kamu lebh mengutamakan Usamah atas dirimu dan keluargamu. Apa pendapatmu, Abu Abdillah jika kita bagi uang ini bertiga?” kata Hamdi sambil tersenyum.
Abu Abdillah menjawab, “Barakallahu fika, semoga Allah memberkahimu, Hamdi.”
Akhirnya uang seratus dinar itu dibagi tiga.

Kisah keluhuran budi tiga lelaki ini, didengar oleh Khalifah. Subhanallah, sang khalifahpun tersentuh ketika mendengarnya. Ternyata, masih ada di antara umat Nabi Muhammad saw yang berjiwa mulia, laksana malaikat. Khalifah langsung membei perintah kepada bendahara negara untuk memberi hadiah kepada tiga lelaki berjiwa malaikat itu, masing-masing sebesar sepuluh ribu dinar.

Begitu menerima uang dari Khalifah, Abu Abdillag langsung sujud syukur lalu menemui istrinya dengan muka berseri-seri, “Ummi Abdillah, sekarang lihatlah, apa pendapatmu, apakah Allah menelantarkan kita?”

Sang istri menjawab dengan mata berkaca-kaca, “Tidak suamiku. Demi Allah, Dia Maha Pemurah. Dia tidak mungkin menelantarkan kita. Bahkan, Dialah yang melimpahkan rezeki-Nya kepada kita semua dengan tiada putusnya.”

“Sekarang kau tahu, istriku.. bahwa menginfakkan harta di jalan Allah adalah bisnis yang pasti keuntungannya dan tidak akan rugi selamanya.”

Saturday, 15 January 2011

bingung jugaa..

mungkin karena masih baru, jadi bingung juga tuk edit nih blog..
kalo ada yang ngerti tolong ajarrin syaaa.. PLEASE! ^__^

Monday, 10 January 2011

heii, new!!

100111

akhirnyaaa..aku buat blog jugaa.. Setelah sekian lama mempunyai keinginan untuk membuat blog.. Akhirnya kesampean jugaa..

This, my first posting..

Belum tau mw ngepost apaan..
Tp yg jelas, ini akuu dhilaa..
Semogaa kalian dapat menikmati blog ku ini..
Enjoy this my blog..
:D