my REAL stories

SETELAH INI HIDUP SAYA BERUBAH TOTAL!!

Awalnya aku tidak tahu harus menceritakan tentang apa. Menceritakan pengalaman berharga? Aku tidak tahu apakah yang akan aku ceritakan ini merupakan pengalaman berharga ataukah tidak. Melainkan cerita ini, merupakan kenangan sekaligus mimpi buruk bagiku. Jika ada yang bertanya kenapa aku menceritakan kenang ini? Bukan untuk dikasihani atau untuk memberitahukan semua orang tentang kesedihan yang aku alami tetapi, karena yang terlintas dalam pikiran saya hanyalah kenangan ini. Kenangan yang membuat hidup saya berubah total. Kenangan yang membuat saya harus bisa menghargai hidup dan mengerti betapa pentingnya arti KELUARGA.

Hari itu 14 Februari 2009, hari yang bagi sebagian orang merupakan hari KASIH SAYANG, hari untuk melimpahkan rasa kasih sayang terhadap orang-orang terdekat dan terkasih kita. Dan pada hari itu, aku pun mengucapkan “HAPPY VALENTINE’S DAY” kepada papa walaupun aku mengucapkannya melalui pesan singkat (SMS). Ketika papa menerima pesan dariku, dia pun langsung menelpon. Kata pertama yang diucapkan papa pada saat itu adalah “kok yang dikirimin papa? Gak salah? Atau jangan-jangan kamu udah terima bunga dari seseorang yaa?” ucap papa dengan nada bercanda.. Aku pun langsung mengelak dari semua pertanyaan papa tapi papa masih saja menggod. Mungkin papa penasaran, apa anak gadisnya ini sudah mempunyai lelaki idaman atau tidak. Setelah papa selesai menggodaku, papa mulai menanyakan kabar dan kegiatanku di kampus. Ketika papa bertanya seperti itu, aku pun memberitahukan segala keperluan yang kubutuhkan selama di kampus. Ketika aku meminta untuk dikirimkan sebuah Al-Qur’an terjemahan, papa langsung mengatakan “kenapa minta dikirim? Beli aja disana. Lagian apa kamu tidak akan pulang lagi kesini? Nanti aja pas kamu pulang. Kamu ngambil terjemahan yang ada di rumah”. Saat itu aku tidak merasakan firasat apapun ketika papa mengucapkan itu semua. Namun ada perasaan aneh yang timbul dalam diriku. Aku heran, baru kali itu papa menanyakan soal kepulanganku ke Makassar. Padahal selama beberapa bulan aku tinggal di Bogor, papa sama sekali tidak pernah menyinggung soal kepulanganku.

Beberapa hari telah berlalu semenjak hari Valentine itu. Dan ternyata kebutuhanku di kampus semakin banyak. Sehingga mengharuskanku untuk meminta kiriman uang kepada orang tua. Karena sifatku yang tidak sabaran, aku selalu menelpon dan mendesak papa atau mama untuk segera mengirimkan uang tersebut. Dan pada akhirnya papa menelponku, setelah mengirim pesan menanyakan kepastian kapan uang tersebut akan dikirim. Ternyata pada saat aku meminta uang, kondisi keuangan orang tuaku lagi sulit. Namun, karena keegoisan dan sifat keras kepalaku, aku tetap menuntut untuk dikirimkan uang secepatnya. Ketika papa menelpon, ada ucapan yang membuatku sampai saat ini selalu merasa bersalah kepada papa. Papa mengatakan seperti ini “tolonglah nak kamu mengerti dulu kondisi papa dan mama, papa sudah mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan kamu, tapi apa boleh buat ternyata belum bisa. Papa sudah berusaha untuk mencari bahkan mencoba meminjam ke saudara papa, tapi ternyata belum bisa juga. Papa sudah seperti mengemis, karena berusaha meminjam kesana-kesini. Jadi kamu harus bersabar dulu ya”. Setelah papa mengatakan itu semua, jujur aku merasa sangat bersalah dan berdosa kepada papa. Karena tingkahku, telah membuat papa seperti itu. Karena semua keegoisan dan kekerasanku. Aku sangat menyesali perbuatanku yang seperti itu.

Setelah beberapa hari berlalu, aku pun mulai menyadari kesalahan dan mulai membatasi segala pengeluaran. Aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan menghilangkan sifat egoisku. Karena aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku tidak akan membuat papa seperti itu lagi. Dan akhirnya kehidupanku di kampus dan kosan berjalan lancar.

Tanggal 26 Februari 2009, tidak tahu kenapa perasaanku saat itu sangatlah senang. Bahkan aku dan teman-teman di kosan tertawa terbahak. Hanya karena hal kecil kami bisa tertawa dengan sangat kerasnya. Hari itu benar-benar hari yang menyenangkan bagiku. Karena jarang aku dapat berkumpul seperti itu dengan teman-teman kosan. Dan malam pun tiba, karena sudah kelelahan aku pun langsung ingin beristirahat. Sebelum aku tidur, shalat Isya kulaksanakan terlebih dahulu dan setelah itu aku mengaji. Karena seperti biasa tiap malam jum’at aku usahakan untuk mengaji. Entah kenapa, ketika aku mengaji yang terlintas dalam pikiranku hanyalah tentang kematian. Aku membayangkan, gimana jika nantinya aku meninggal, dan pergi meninggalkan seluruh keluargaku. Tidak ada firasat apapun ketika aku membayangkan semua itu hanyalah perasaan takut dan gelisah. Setelah selelsai mengaji, aku pun bersiap untuk tidur. Namun ketika aku hendak tidur, entah kenapa aku sama sekali tidak bisa tidur, mataku tidak bisa terpejam. Aku gelisah, entah apa yang aku pikirkan. Ketika mata mulai mengantuk dan tertidur. Handphoneku berdering, aku ingat, malam itu pukul 00.00 tepat. Tanteku menelpon dan memberitahukan kabar yang sangat buruk. Dia mengatakan bahwa papa sekarat, dia terjatuh di kamar mandi, dan tante menyuruhku menelpon ke mama. Awalnya tidak ada firasat apapun karena papa pernah masuk rumah sakit sebelumnya.

Akhirnya aku pun menelpon ke mama. Pada malam itu, entah kenapa mama sangat sulit untuk dihubungi. Teleponku tidak ada yang di jawab. Dan ketika teleponku akhirnya di jawab oleh mama, aku tersentak kaget mendengar jawaban mama ketika aku menanyakan keadaan papa. Mama mengatakan jika papa baik-baik saja hanya pingsan karena terjatuh dari kamar mandi. Dan mama akan segera membawa papa ke rumah sakit. Mama hanya menyuruhku untuk mendoakan papa agar keadaan papa baik-baik saja. Perasaanku menjadi sedikit lega ketika mendengar kabar itu. Namun ketika aku menutup telepon, tanteku yang lain menelpon dan memberitahukan bahwa papa sudah tidak ada. Seperti mimpi, aku sangat kaget dan tidak menerima kabar tersebut. Seakan-akan seluruh bumi menjadi gelap seketika saat aku menerima kabar tersebut. Aku tidak rela jika papa pergi. Saat itu juga, aku langsung menelpon mama, dan menanyakan kabar tersebut. Namun teleponku tidak juga di angkat oleh mama. Aku pun menelpon adik mama, yang saat itu berada dirumah bersama mama. Dan ketika aku menelpon tante, dia membenarkan kabar yang aku terima. Lalu aku pun meminta untuk berbicara dengan mama. Yang membuatku kesal, mama seolah-olah tidak ingin memberitahuku tentang kejadian yang sebenarnya. Mama hanya mengatakan bahwa papa sekarat dan sekarang dalam kondisi koma. Dia hanya memintaku untuk mendoakan papa agar keadaanya baik-baik saja. Setelah menerima telepon dari banyak banyak orang, aku pun yakin jika papa benar-benar sudah tidak ada lagi, dia telah pergi. Aku pun berusaha menelpon mama lagi, dan saat itu mama sudah tidak menyangkal lagi, dan membenarkan semua kabar tersebut. Pada saat itu aku sempat marah sama mama dan membentak mama lewat telepon. Aku ingat betul, saat itu pukul 01.00 27 Februari 2010. Seperti ditusuk pisau, rasanya sangat sakit mengetahui kabar yang sebenarnya. Seperti dunia telah gelap, telah hancur bersama dengan perginya papa, semua impian dan mimpi yang selama ini telah aku rancang seketika itu hancur dengan perginya papa. Sempat terlintas dalam pikiranku untuk berhenti kuliah, dan tidak akan kembali lagi ke Bogor.

Pagi 27 Februari 2009, pukul 4 dini hari aku mempersiapkan seluruh keperluan dan barangku untuk pulang ke Makassar. Walaupun dengan tidur yang kurang, pada malam itu aku memaksakan diri untuk tidur, karena dalam pikiranku ini hanyalah MIMPI BURUK, dan ketika aku bangun keesokan harinya semuanya akan baik-baik saja, dan papa seperti biasanya akan menelpon dan membangunkanku untuk shalat subuh. Walaupun kadang waktunya kecepatan karena selisih waktu antara Bogor dan Makassar. Namun ketika aku terbangun, ternyata ini semua adalah kenyataan yang harus aku terima. Aku pun bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Ketika aku keluar dari kosan, temanku Iie ternyata telah menunggu dan siap untuk mengantarku ke terminal. Aku kaget melihat dia ada di depan kosan. Mungkin ini salah satu bantuan yang dikirim Allah untuk membantuku. Akhirnya aku sampai di bandara dengan Om, karena sebelum ke bandara aku kerumah Om dulu, dan kami bersama-sama menuju ke bandara. Ketika om mengurus tiket ke Makassar, aku bertemu dengan kakak dan adik-adik papa yang datang dari Riau. Dan ternyata kami pun satu pesawat. Ketika berada di ruang tunggu, aku juga bertemu dengan adikku yang bersekolah di Magelang. Sungguh keajaiban Allah SWT, Dia mempertemukanku dengan orang-orang terdekatku. Sehingga aku tidak kalut dan merasa sendiri dalam perjalanan pulang ke rumah.

Setelah menempuh perjalanan dengan pesawat selama kurang lebih 2 jam, akhirnya aku sampai di Makassar. Aku sampai di kota yang selama ini kurindukan. Ada perasaan aneh yang kurasakan ketika menginjakkan kaki di Makassar. Sebenarnya aku senang bisa pulang, karena sudah lama aku merasakan kerinduan untuk pulang ke rumah, tapi aku tidak ingin pulang dengan alasan seperti ini. Aku masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya dan mengharapkan ini semua hanyalah mimpi.

Akhirnya aku sampai di rumah, ketika aku turun dari mobil, langkah kakiku pun tidak bisa tertahan, aku lari menuju rumah dan melihat bendera putih tergantung dan orang-orang berkumpul di depan rumah. Ternyata ini kenyataan, langkah kaki ku terasa berat untuk masuk ke dalam rumah. Dan ketika aku masuk ke rumah, di sanalah terbaring jasad orang yang selama ini saya rindukan, orang yang membuat hidup saya begitu berharga, dan orang yang membuat saya ada di dunia ini. Jasad papa telah tebaring kaku, dengan diselimuti kain kafan putih. Dia tidak dapat menyambut kedatanganku. Dia hanya bisa diam tanpa mengeluarkan kata sedikit pun. Aku hanya bisa terdiam melihat jasad papa. Menangis? Tentu saja, aku tidak kuat menahan kesedihan ini. Melihat orang yang paling kusayangi telah pergi. Yang membuat aku kuat untuk bertahan adalah mama dan adik-adikku. Ketika di mobil menuju ke rumah adikku yang paling tua, mengingatkan aku agar jangan menunjukkan kesedihan yang mendalam di rumah. Katanya “kak Dhila nanti kalau sudah sampai di rumah, harus bisa kuat ya, jangan menangis, harus bisa kontrol diri, kasian mama, lagian ada Fhika dan Zacky yang masih kecil. Terutama Zacky, dia belum tahu apa-apa sudah harus ditinggalkan papa seperti ini. Kak Dhila harus kuat ya, untuk mama. Kalau kita berdua bisa kuat dan tabah, pasti mama juga bisa berjuang, kita harus bisa ikhlas ya kak, walaupun rasanya sulit!”. Nasehat adikku inilah yang membuatku mampu bertahan di depan mama pada hari itu.

Memang sulit rasanya menerima kenyataan ini, aku berusaha untuk tetap tabah dan tegar. Namun semua ini telah mempengaruhi hidup saya. Semenjak kejadian itu, emosi saya menjadi labil, saya menjadi seperti tidak memiliki pegangan. Karena selama ini saya terbiasa untuk menceritakan masalah saya ke papa. Namun dengan kejadian ini, membuat saya untuk belajar lebih dewasa, dan memiliki rasa tanggung jawab. Ternyata ucapan papa pada hari Valentine itu merupakan suatu pertanda yang dia berikan dan perasaan yang aku rasakan ketika mengaji pada malam kepergian papa merupakan suatu firasat yang telah diberikan Allah kepadaku agar aku siap menerima kenyataan ini.

Jujur hingga saat ini aku belum bisa IKHLAS sepenuhnya, aku belum bisa menerima kenyataan bahwa papaku telah pergi dan sekarang telah hidup tenang disisiNya. Namun, aku tidak bisa terus-menerus merasa sedih dan kehilangan. Aku harus tetap berjuang demi mama dan adik-adikku. Saat ini mereka merupakan kekuatan dan cahaya dalam hidupku. Tanpa mereka hidupku menjadi tidak berarti. Hanya untuk merekalah aku bertahan dan menjalani hidupku.

Saat ini, aku mulai belajar untuk lebih mengerti dengan keadaan mama, belajar untuk menghilangkan sifat egois dan keras kepala yang aku miliki. Belajar untuk menghargai dan mengetahui betapa pentingnya arti keluarga dalam hidup. Semenjak kejadian itu, aku mulai belajar untuk menyelesaikan semua masalahku seorang diri tanpa melibatkan mama dan orang lain. Aku berusaha menjadi anak mama yang terbaik dan menjadi teladan yang baik bagi adik-adikku.

Semoga Allah senantiasa melindungi orang-orang yang kusayangi dan meridhoi segala yang telah kami lakukan. Aku yakin ada hikmah dibalik semua kejadian ini. Allah punya rencana lain dibalik semua ini. Allah sayang sama papa, makanya dia cepat dipanggil pulang ke SisiNya. Allah begitu sayang dengan keluarga kami, sehingga kami di berikan ujian seperti ini. Allah ingin mengetahui sejauh mana ketakwaan kami, dan sekuat apa kami menjalani segala ujian dan cobaan yang telah Dia berikan. Segala ujian dan cobaan yang Allah berikan merupakan jalan untuk meningkatkan derajat kami di mata Allah swt.